- Hidup itu adalah sebuah perjalanan
- Hidup itu adalah penderitaan
- Hidup itu adalah sebuah pilihan
- Hidup itu adalah penebusan dosa
- Hidup itu adalah untuk bersenang-senang
- Hidup itu adalah panggung sandiwara
- Hidup itu adalah perjuangan
- Hidup itu adalah seni
- Hidup itu adalah sebuah rantai makanan
- Hidup itu adalah untuk cinta
- Hidup itu adalah persaingan
- Hidup itu adalah sebuah hiasan
- Hidup itu adalah ujian
- Hidup itu adalah penantian
- Hidup itu adalah misteri
- Hidup itu adalah suatu kesempatan
- Hidup itu adalah pengorbanan
- Hidup itu adalah untuk makan
- Hidup itu adalah maya
- Hidup itu adalah sebuah putaran
- Hidup itu adalah keghagiaan
- Hidup itu adalah untuk mati
- Hidup itu adalah reinkarnasi kembali
- Hidup itu adalah…………………….
- Hidup itu adalah ??????????????????
tugase bu yanti
Selasa, 29 Juni 2010
Hidup yang kekal bukan berarti bahwa seseorang tidak akan mati. Tidak pernah mati juga bukan berarti bahwa memiliki hidup yang kekal. Ini adalah poin pertama yang perlu kita tegaskan. Hidup yang kekal jelas bukan berarti bahwa kita tidak akan pernah mati. Memiliki keberadaan yang bersifat selamanya tidak dapat disamakan dengan hidup yang kekal. Kita harus jelas dalam berpikir. Kehidupan dan keberadaan jelas tidak dapat disamakan. Dengan demikian, hidup selamanya tidak sama dengan eksis selamanya. Keberadaan tidak harus menunjukkan adanya kehidupan. Hidup sebagaimana yang dibicarakan oleh Alkitab jelas tidak memiliki makna keberadaan atau tidak mati.
Ada sebuah film yang berjudul 'Mencintaimu Selama Tiga Ratus Enam Puluh Lima Tahun (Loving You For Three Hundred And Sixty-Five Years)'. Film ini berkisah tentang seseorang yang tidak ingin mati. Suatu hari, dia bertemu dengan peri yang memberinya kekuatan sihir; bukan untuk hidup selamanya, tetapi untuk dapat hidup sampai 365 tahun. Selama tiga ratus enam puluh lima tahun, orang ini bekerja dan membangun bisnisnya. Dia menjadi sangat kaya raya. Dengan berlalunya waktu, teman-temannya menjadi semakin tua dan mati satu demi satu. Istrinya juga menjadi tua dan merasa tidak cocok lagi dengan suaminya, yang masih terlihat muda dan tampan. Lalu sang istri menjalani operasi plastik. Sayangnya, operasi ini gagal, dan dia lalu bunuh diri. Pria ini semakin lama semakin merasa kesepian. Akhirnya, hanya dia saja yang tersisa dari kumpulan para sahabat ini. Dia juga merasa tidak ingin hidup lebih lama lagi, dan dia mencoba berbagai macam upaya untuk bunuh diri. Dia melompat dari atas gedung yang tinggi, tetapi dia malah mendarat di atas truk beratap kain kanvas yang kebetulan sedang melintas. Sang peri mengingatkannya bahwa selama365 tahun itu dia tidak akan dapat mati. Sebab jika dia mati dalam masa itu, berarti kekuatan sang peri terbukti tidak manjur!
Saya sudah kepala dua, umurnya. Saat ini barulah saya bertanya: apa itu hidup? Bagaimana saya menghidupi hidupku? Mengapa saya hidup? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan retoris, melainkan pertanyaan reflektif yang menghantar saya ke kedalaman hidup. Ketika saya tahu dan sadar apa, bagaimana, dan mengapa saya hidup, saya semakin sadar: apa yang harus saya perbuat, bagaimana saya harus berbuat, dan mengapa saya berbuat sesuatu (misalnya, perhatian terhadap orang lain, menolong orang lain, mendoakan orang lain, etc). Hidupku adalah sebuah bangunan, yang mesti saya jaga, bersihkan, dan rawat
Langganan:
Postingan (Atom)